JELAJAH ARSITEKTUR GEREJA

“Owaada menjadi keseluruhan entitas dan titik pijak spiritualitas dari masyarakat Mee,” ungkap Pater Puspo, SJ. Owaaadalah rumah tradisional suku Mee, dan di dalam rumah tersebut setiap keluarga secara individual mempunyai kedaulatan yang mutlak dalam sebuah masyarakat yang menuntut ‘kebersamaan’ komunal.

clip_image002

Maria ha owa (rumah Maria, sebagai kapel paroki)

Maka pembangunan gereja sungguh-sungguh suatu panggilan keluar dari rumah masing-masing untuk berkumpul(ekklesia = ex kalein). Lokasi pembangunan yang nyata-nyata telah diserahkan bapak Andreas Iyai menjadi milik misi Gereja Katolik, harus ‘dibebaskan’ secara adat lewat upacara selamatan oleh kumpulan masing-masing keluarga di paroki Bomomani, tanda kesetujuan mereka atas pembangunan gereja ini dalam upacara termuat juga janji untuk menyumbangkan segala sesuatu yang diperlukan agar kesetujuan itu menjelma secara nyata.

clip_image004

Kompleks misi Gereja Katolik, Bomomani – Mapia, Kabupaten Dogiyai – Papua.

Bentuk dan Bahan

Arsitektur dan makna rumah bagi orang Mee segera menjiwai perubahan dramatis atas kedua rancangan gereja yang pertama-tama dibuat oleh pak Yahya sebelum beliau berkunjung ke Bomomani di awal tahun 2006. Bentuk gereja yang menyerupai salib, yang terbentang utara-selatan dan timur-barat adalah simbol dari panggilan kepada setiap owaa untuk berkumpul. Bentuk yang menunjukan bangunan ini mengambil ciri-ciri suatu owaa bisa terlihat dari dinding yang disusun menyerupai haga, tiang-tiang kecil tegak yang menopang dinding sebagaimana terjadi dalam pembuatan owaa, rumah tradisional masyarakat Mee.

clip_image006Landasan batu alam di sekeliling gereja dan juga di bagian dalam, khususnya di panti imam dan jalur-jalur umat selain melambangkan dasar batu cadas sebagai fondasi gereja juga melambangkan keaslian dasar bangunan rumah tradisional masyarakat yang umumnya terdiri dari tanah dan batu. Batu-batu tersebut dikumpulkan dari tujuh sungai yang mengalir di tujuh stasi paroki Bomomani sebagai ungkapan persatuan umat. Contohnya, sejumlah batu putih harus melalui sedikitnya satu setengah jam jalan kaki mulai dari sungai Wuduo, Abaimaida hingga sampai di lokasi pembangunan gereja Bomomani sementara batu-batu granit bergaris pualam putih ‘berjalan’ tiga jam dari sungai di bawah jembatan besi Ugida. Kebanyakan batu memang diambil dari sungai terdekat dengan lokasi yaitu kali Yoai.

Masuk ke dalam gereja, umat akan mendapat pemandangan yang berbeda dari perwujudan luar gereja yang amat menampakan tersambungnya empat rumah. Ketika melewati pintu, umat akan masuk dalam ruangan luas berbentuk wajik tanpa sudut siku-siku yang menunjukan adanya persambungan tersebut, untuk mengungkapkan persatuan sejati dan bukan egosentrisme masing-masing owaa dalam Gereja. Dinding bagian dalam yang disusun dari kayu cina berwarna alami kuning terang, kayu dari semacam pohon pinus yang ringan namun liat, amat berbeda dibanding dinding luar yang coklat gelap dari kayu besi yang berat. Hal ini menambah nuansa pencerahan dan keterbukaan iman saat umat melakukan peribadatan. Cara umat membuat eksotisme tradisional atas kontruksi modern atap adalah melapisi plafon dengan anyaman jubi, semacam buluh bambu, yang sama seperti kayu dan batu-batu, dikumpulkan dari berbagai pelosok wilayah paroki Bomomani kemudian diikat dengan rotan sumbangan istimewa umat Ugida, stasi di balik gunung Koboge, 12 km dari pusat paroki. Plafon jubiini adalah kebanggaan umat walau kalau diteliti terkesan kurang rapi.

Simbol-simbol

Ada empat undakan batu kalau umat mau masuk gereja lewat pintu utama, melambangkan empat pengarang Injil, Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes yang telah membawa ‘terang baru’ kepada umat. Selanjutnya umat akan sampai pada teras berlantai batu kali yang digunakan juga untuk menyalakan api unggun besar secara tradisional, khas budaya zaman batu tengah, saat upacara cahaya atau api baru di Malam Paskah. Undakan ini menjadi bahan refleksi umat merenungkan kabar gembira Injil yang mereka terima lewat sakramen baptis, ekaristi serta krisma dan setiap tahun mereka menerima berkat dari api dan cahaya baru Paskah. Usai misa, umat akan mengumpulkan arang dan abu sisa pembukaan upacara cahaya yang apinya harus selalu dinyalakan dengan cara tradisional. Arang dan abu ini diyakini membawa kesuburan bila disebarkan di ladang umat.

Selanjutnya, pintu utama berdaun ganda dari kayu besi utuh yang berat, menjulang megah tiga meter di muka gereja. Profil jendela bergaya lengkung eropa, yang terukir pada kayu memang tampak ‘ngga nyambung’ dengan nuansa budaya tradisional yang mau ditampilkan keseluruhan gedung gereja, karena pintu tersebut memang sumbangan dari Rm. Bas, pimpinan misi Yesuit di papua yang berdomisili di Nabire. Pintu ini semula akan digunakan untuk kapel Le Cock d’Armandville, namun karena ukuran kurang sesuai maka dihibahkan ke Bomomani. Hal ini malahan memberi suasana percampuran budaya yang cukup unik melambangkan situasi budaya ‘ngga nyambung’ dan ‘asal fungsional’ yang berkembang di kalangan masyarakat, misalnya ketika orang Meemembangun rumah-rumah tradisional dengan atap seng berkarat dan ketika koteka disandingkan dengan jaket atau ketika lima kilo ubi ditukar sekaleng fanta merah yang dipercaya sebagai obat penambah darah.

clip_image010Di bagian atas pintu-pintu lain dan di atas jendela-jendela tengah pada dinding-dinding samping, terpasang ventilasi berbentuk segitiga, yang sebenarnya tidak termasuk dalam rancangan pak Yahya tapi modifikasi kreatif yang agak dipaksakan oleh pak Agus Sipi, yang memimpin proyek pembangunan di lapangan. Pada ventilasi-ventilasi ini kemudian ditambahkan dua macam bentuk ukiran asli dari Jepara terinspirasi Injil Markus kala Yesus memberi makan lima ribu orang (Mark 6:30-44). Ukiran pertama pada setiap ventilasi pintu berupa burung pelikan yang memberi makan anak-anaknya dengan darah dari dadanya sendiri, untuk mengingatkan pesan Kristus “kamu harus memberi mereka makan!” (Mark 6:37). clip_image008Sementara pada setiap ventilasi jendela ditempatkan ukiran lima roti dan dua ikan yang dicari dan diminta Kristus dari umat untuk saling berbagi hingga rezeki itu berlipat ganda karena berkatNya (Mark 6:38, 41-44). Ukiran ini merupakan visualisasi dari arah pastoral misi di Bomomani.

Berbeda dengan kebiasaan lama, susunan bangku umat dibuat mengelilingi altar ketimbang berbaris panjang. Susunan ini dibuat untuk menterjemahkan prinsip owaada dengan menganggap altar sebagai utu koma, tungku api dalam owaa (rumah tradisional) yang biasa dikelilingi para penghuni owaa untuk menghangatkan diri dan memasak makanan demikian altar kurban kristus menghangatkan kerohanian dan menjadi sumber makanan iman umat. clip_image012Susunan ini juga sesuai dengan penghayatan liturgi baru serta membuat suasana lebih komunikatif agar jarak umat tidak menjadi terlalu jauh dari pemimpin ibadat serta diharapkan membuat suara pemimpin lebih jelas didengar merata oleh umat. Demikian juga dengan adanya tempat duduk di atas lantai merombak kebiasaan lama susunan tempat duduk umat di pedalaman yang cenderung menggali ke dalam tanah ketimbang membuat bangku. Perlahan-lahan umat diundang untuk siap masuk dunia kehidupan modern melalui gaya-gaya liturgis yang semakin disesuaikan dengan tata liturgi baru. Keteraturan dan ketertiban hidup diharapkan bisa muncul secara bertahap melalui susunan tempat duduk dan jalur berjalan umat.

Panti Imam

Terbagi dalam dua tingkatan yang lebih tinggi dari tempat duduk umat. Panti imam tingkatan pertama dibatasi dengan tiga undakan yang melambangkan tiga sumber pengetahuan iman umat melalui Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium gereja. Pada bagian ini terdapat sebuah mimbar sabda berkaki kokoh dari lempeng batu cadas besar yang berat dan amat keras dengan meja dari belahan penampang kayu epoyang sangat artistik. Pada tingkatan ini jugalah imam dan petugas liturgi lain dalam perayaan ekaristi duduk pada tiga bangku yang dipahat dari belahan balok meja altar dan melakukan aktifitas liturgi pembukaan, liturgi sabda serta liturgi penutup. Tingkatan kedua dibatasi dua undakan lagi yang melambangkan pemberian diri Kristus sebagai Imam sekaligus Kurban Ekaristi. Dengan demikian jelas bahwa aktifitas ibadat sabda yang sering dilakukan di antara paroki-paroki pedalaman dipimpin pewarta awam hanya dilakukan di tingkatan pertama panti imam, sementara tingkatan kedua secara khusus digunakan dalam kurban ekaristi oleh imam atau dalam kesempatan khusus pewarta awam kalau dirasa perlu ada komuni bagi umat.

Pada tingkatan kedua ini terletak altar solid ditopang dua batu yang sering disebut-sebut batu pengantar emas yang amat keras dan berat. Masing-masing batu diangkat dari kali Yoai oleh 33 orang umat pada tanggal 29 Nopember 2006. Di atas kedua batu tersebut diletakan dengan terkunci rapat altar kayu dari belahan pohon Tuwa,yang terkenal keras dan cukup berat yang hanya tumbuh di daerah pegunungan tinggi. Balok dipotong sepanjang 2,10 meter lalu dibelah mengikuti penampang pohon berdiameter 70 – 80 cm dengan ketebalan 10 – 30 cm. Belahan pohon ini dipikul oleh sekitar 50 orang dewasa dari sebuah bukit berhutan lebat setinggi 2100 meter dari permukaan laut. Setelah satu setengah jam melewati medan perjalanan yang amat sulit dilalui, belahan itu tiba di lokasi gereja tanggal 27 Nopember 2006. Keesokan harinya, melalui medan yang sama belahan lain dari balok itu tiba, belahan inilah yang menjadi kursi imam dan konselebran, yang sengaja ditempatkan di depan altar pada tingkatan pertama panti imam agar lebih menyapa umat. Kaki batu, meja kayu altar dan bangku yang terpahat pada belahannya tersebut dinyatakan sebagai hadiah ulang tahun imamat pastor paroki, Johan Ferdinand, Pr yang ditahbiskan tepat tanggal 27 Nopember 2002.

clip_image014

Panti Imam terbagi dalam dua tingkatan, bangku dan mimbar bacaan di tingkat pertama sementara altar dari belahan kayu, tabernakel bermotif tradisional dan meja craedens di tingkat kedua.

Selain altar, di tingkatan kedua juga terdapat tabernakel, tertanam pada dinding batu di sebelah timur laut. Sengaja dibentuk menyerupai kamar, tabernakel ini mau menggambarkan makam tradisional masyarakat Mee di Mapia yang meletakkan jenasah dalam lubang-lubang pohon dan menutupnya dengan lembaran-lembaran kayu. Pintu tabernakel akan dibentuk menyerupai batang pohon dan di balik pintu akan terdapat panel ukiran kayu asli dari Jepara yang menggambarkan Maria menerima kabar gembira, nama paroki Bomomani. Pada panel tersebut, tepat di lubang dimana diletakan sakramen Mahakudus secara tersamar ada pintu persegi bergambar burung merpati, lambang Roh Kudus tersambung dengan panel, sementara di bawahnya agak ke pojok kanan, Maria dalam busana lokal duduk bersimpuh menerima kabar gembira Roh Kudus yang menaunginya.

Di samping kiri dan kanan altar terdapat dua tiang lilin altar. Sengaja dibuat demikian untuk menjaga altar semata-mata sebagai meja kurban ekaristi tanpa hiasan apapun kecuali selembar kain yang hanya mengisi sepertiga luasan meja. Lilin yang melambangkan terang kristus disangga oleh tiang yang kokoh juga berfungsi menghindarkan altar dari tetesan lilin yang bisa merusak kayu.

Secara umum, bahan yang digunakan untuk membangun panti imam sangat berbeda dengan bagian lain dalam gereja. Yang paling menonjol adalah penggunaan batu-batu alam dalam jumlah yang amat banyak, dinding batu alam di sekitar panti imam secara mencolok membawa perubahan drastis dari bagian tempat duduk umat yang dindingnya dari kayu. Sedangkan lantai yang di sekitar altar terdiri dari batu-batu masive berukuran lebih besar dari batu lantai lainnya membuat nuansa seolah-olah menjadi induk bagi lantai-lantai batu di sekitar panti imam dan memancar ke jalur-jalur umat serta susunan lantai lain yang juga berlandaskan batu kali. Hal ini hendak melambangkan cinta kasih pengurbanan Kristus yang memancar sampai ke seluruh Gereja. (Fe Enakidabi)

2 thoughts on “JELAJAH ARSITEKTUR GEREJA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s